About the Journal

Prosiding SPORA merupakan rangkuman hasil Simposium Pengabdian Masyarakat Humaniora yang diselenggarakan setiap tahun oleh Infermia Publishing dengan ISSN Online: 3046-8531.

Infermia Publishing bergerak dalam penerbitan buku dan mengelola Simposium dengan luaran berupa Jurnal atau Prosiding.

Prosiding SPORA diterbitkan secara online setiap tahun pada bulan Desember

Bidang Ilmu :

1. Antropologi
2. Arkeologi
3. FIlsafat
4. Kajian Budaya
5. Komunikasi
6. Linguistik
7. Sastra
8. Sejarah
9. Seni
10. Sosiologi

Current Issue

Prosiding Simposium Pengabdian Masyarakat Humaniora (SPORA) 2025
					View Prosiding Simposium Pengabdian Masyarakat Humaniora (SPORA) 2025

Rabu, 17 Desember 2025


Merawat Alam, Menguatkan yang Rentan

 

Latar Belakang

Sesuai UU Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen, juga Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 37 Tahun 2009 tentang Dosen, dosen adalah pendidik profesional dan ilmuwan dengan tugas utama mentransformasikan, mengembangkan, dan menyebarluaskan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni, melalui pendidikan, penelitian, dan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM). Tiga poin terakhir, yaitu pendidikan, penelitian, dan pengabdian, disebut sebagai Tri Dharma Perguruan Tinggi. Dalam bidang pendidikan dan pengajaran, kewajiban dosen untuk mengajar terpenuhi dengan tugas mengajar di setiap semester. Dalam bidang penelitian, ada banyak seminar yang bisa diikuti tiap tahunnya. Selain itu, terdapat banyak jurnal untuk mempublikasikan penelitian. 

Di bidang PkM, sivitas akademika (dosen dan mahasiswa) mengamalkan dan membudayakan ilmu, pengetahuan, dan teknologi untuk memajukan kesejahteraan umum dan mencerdaskan kehidupan berbangsa, sesuai UU No 12 Tahun 2012 tentang Perguruan Tinggi, Pasal 47 dan 48. Tujuan pelaksanaan PkM sesuai Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 3 Tahun 2020 tentang Standar Nasional Perguruan Tinggi adalah mengembangkan model pemberdayaan masyarakat, meningkatkan kapasitas Pengabdian kepada Masyarakat, memberikan solusi berdasarkan kajian akademik atas kebutuhan, tantangan, atau persoalan yang dihadapi masyarakat, baik secara langsung maupun tidak langsung. Kemudian, melakukan kegiatan yang mampu memberdayakan masyarakat pada semua strata, secara ekonomi, politik, budaya, dan melakukan alih teknologi, ilmu dan seni kepada masyarakat untuk mengembangkan martabat manusia berkeadilan gender dan inklusi sosial serta kelestarian sumber daya alam. 

Hasil PkM sivitas akademika wajib disebarluaskan dengan diseminarkan, dipublikasikan dan/atau dipatenkan. Hal tersebut sesuai UU Nomor 12 Tahun 2012 tentang Pendidikan Tinggi Pasal 45 dan 46. Hasil penelitian, termasuk hasil PkM, di tingkat perguruan tinggi bermanfaat untuk pengayaan ilmu pengetahuan dan teknologi serta pembelajaran, peningkatan mutu perguruan tinggi dan kemajuan peradaban bangsa, peningkatan kemandirian, kemajuan dan daya saing bangsa, pemenuhan kebutuhan strategis pembangunan nasional dan perubahan masyarakat Indonesia menjadi masyarakat berbasis pengetahuan. 

Simposium Pengabdian Masyarakat Humaniora atau SPORA adalah simposium tahunan yang diadakan Infermia Publishing sejak 2023. Kegiatan ini menjadi wadah bagi kelompok akademisi dan praktisi untuk menyebarluaskan, mendiskusikan, dan mempublikasikan PkM-nya. SPORA berfokus pada PkM di bidang ilmu humaniora atau objek penelitiannya berdasarkan bidang humaniora. 

SPORA 2024 bertema “Merangkul Minoritas, Merawat Inklusivitas” dilaksanakan 4 Desember 2024. Tema ini dipilih karena kami menyadari kondisi darurat terhadap toleransi keberagaman dan kaum minoritas di Indonesia. Minoritas yang dimaksud bukan hanya agama dan etnis, kurang mampu secara ekonomi, tetapi juga fisik (kaum disabilitas). Minoritas adalah siapapun yang dikelompokkan marjinal. Jumlah peserta SPORA 2024 lebih dari 200 orang dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia, antara lain, Universitas Kebangsaan Republik, Universitas Negeri Semarang, Universitas Pamulang, Universitas Garut, Universitas Hasanuddin, Universitas Indraprasasta PGRI, Universitas Kristen Indonesia, Universitas Indonesia, ISI Surakarta, dan UIN Syarif Hidayatullah. Adapun co-host SPORA 2024 adalah FMIPA Universitas Garut, Prodi Sastra Inggris Universitas Pamulang, dan FAH UIN Syarif Hidayatullah. Dua pembicara utama pada SPORA 2024 adalah Prof. Pujo Semedi Hargo Yuwono dari Universitas Gajah Mada dan Dr. Luh Gede Saraswati Putri dari Universitas Indonesia. Keduanya memang aktif di bidang PkM. Dari hasil survei, 89 persen dari peserta SPORA 2024 sangat setuju SPORA 2024 menjadi akses mempelajari sesuatu yang baru terkait ilmu humaniora dan PkM. 

Begitu juga dengan pemakalah yang mendesiminasikan hasil PkM-nya di SPORA 2023. Ada 28 makalah dan 30 orang penyaji yang terbagi dalam beberapa kelompok. Para pemakalah berasal dari berbagai disiplin ilmu dan jurusan, antara lain Antropologi, Sastra Perancis, Sastra Inggris, Sastra Indonesia, Pendidikan Bahasa Inggris, Ilmu Farmasi, Ilmu Kebidanan, Ilmu Keperawatan, Ilmu Kedokteran, Ilmu Kimia, Ilmu Komunikasi, Ilmu Kewirausahaan, Profesi Ners, Ilmu Fotografi, dan Seni Murni. Dari hasil survei, 95 persen dari para pemakalah sangat setuju bahwa SPORA 2024 sudah menjadi ruang diskusi yang aktif dan sangat menyenangkan. Kami percaya SPORA menjadi wadah yang tepat untuk para tendik memaparkan hasil PkMnya, bertukar gagasan, dan berdiskusi dengan para tendik dari berbagai kampus di Indonesia. 

Infermia Publishing adalah penerbit buku dan jurnal, beberapa hasil terbitan dapat diakses secara terbuka oleh setiap pelajar, penulis, peneliti, dan akademisi untuk merawat dan berbagi pengetahuan secara berdampak. Visi Infermia Publishing adalah merawat pengetahuan secara berdampak bagi masyarakat. Kami percaya ilmu pengetahuan memberikan kemudahan bagi semua kelompok dalam program dan ruang yang sama. Infermia Publishing berharap SPORA mampu mendorong semangat Tri Dharma Perguruan Tinggi para sivitas akademika di seluruh Indonesia dan peningkatan kapasitas individu melalui diskusi dengan narasumber di bidang PkM dan ilmu humaniora. 

Melalui Simposium Pengabdian Masyarakat Humaniora (SPORA): Merawat Alam, Menguatkan yang Rentan diharapkan para peserta semakin memiliki kesadaran betapa pentingnya merawat alam, merangkul kelompok marjinal, melakukan penelitian dan pengabdian, lalu membagikan hasil kegiatannya dalam rangka pemberdayaan dan pengembangan martabat manusia berkeadilan dan inklusi sosal serta kelestarian sumber daya alam. 

  • Tujuan

SPORA 2025, “Merawat Alam, Menguatkan yang Rentan” akan berlangsung pada Rabu, 17 Desember 2025. Kami memilih tema ini karena menyadari eksploitasi alam yang semakin menjadi-jadi di negeri kita, begitu juga dengan komunitas lingkungan dan kelompok rentan. Simposium ini ditujukan bagi sivitas akademika di seluruh Indonesia yang mengikuti program PkM. Tujuan dari SPORA 2025 adalah mendiseminasikan hasil PkM di bidang humaniora atau subjek pengabdiannya adalah kelompok rentan di masyarakat. Luaran dari program ini adalah prosiding dan jurnal ber-ISSN atau jurnal terakrditasi SINTA setelah melalui proses reviu. Tahun ini, SPORA bermitra dengan jurnal Idea Pengabdian Masyarakat. 

Deskripsi Kegiatan

SPORA 20205, “Merawat Alam, Menguatkan yang Rentan” dipandu oleh Infermia Publishing secara daring melalui Zoom. Simposium ini mengundang para sivitas akademika di seluruh Indonesia untuk mendiseminasikan hasil PkM dan berdiskusi mengenai kelompok marjinal dan cara untuk menciptakan inklusivitas di berbagai ruang dan program dalam masyarakat. Dengan mengikuti kegiatan ini, diharapkan para peserta simposium dapat meningkatkan hubungan kerja sama antarperguruan tinggi dalam bidang humaniora, dan mempublikasikan hasil PkM dalam bentuk prosiding, jurnal ber-ISSN atau terakreditasi SINTA setelah melalui proses reviu.

SPORA 2025 akan dilaksanakan pada Rabu, 17 Desember 2025. Kegiatan ini akan dibagi menjadi dua sesi. Sesi pertama adalah pemaparan materi dan diskusi bersama dua narasumber, yaitu Dewi Candraningrum dari Jejer Wadon Studio, Boyolali, dan Prasanti Widyasih Sarli, Ph.D. dari Institut Teknologi Bandung. 

Pada tayangan Siniar Jagat di akun Youtube GusdrianTV Membincangkan Alam, Perempuan dan Perlawanan, 15 Agustus 2025, Mbok Dewi—panggilan akrab Dewi Candraningrum—membahas keterikatan perempuan dengan alam. Menurut Mbok Dewi, protes para ibu sekaligus petani di Kendeng atas berdirinya pabrik semen di sana pada 2014 lalu adalah bentuk protes yang radikal dari perempuan sebagai korban, katalisator, fasilitator, sekaligus agen perubahan, sama halnya dengan para ibu di seluruh Indonesia yang ikut aksi turun ke jalan pada akhir Agustus lalu sebagai ekspresi kekesalannya pada pemerintah. Komunitas lingkungan atau kelompok rentan lainnya, termasuk perempuan, ketika melakukan protes adalah upaya nyata untuk mendukung pembangunan yang berkelanjutan, bukan kontra terhadap pembangunan. 

Mbok Dewi banyak menulis tentang diskoneksi antara manusia dan alam di era modern. Keresahan itu menjadikannya sosok yang gigih dan lantang bersuara di berbagai forum, baik nasional maupun internasional. Tak kalah penting, Mbok Dewi juga konsisten menyuarakan bagaimana perempuan memiliki peran penting dalam merekoneksi keterputusan tersebut—menghadirkan kembali hubungan yang selaras antara tubuh, alam, dan kemanusiaan. Berkaitan dengan tema SPORA 2025, Mbok Dewi akan memaparkan materi bertema “Keadilan Multispesies dan Keadilan Gender dalam Hukum”.

Sejalan dengan itu, Prasanti Widyasih Sarli atau akrab dipanggil Ibu Asih juga seorang dosen yang gigih menyuarakan kelestarian alam melalui program-program di bidangnya. Menggunakan pendekatan Teknik Sipil, Ibu Asih banyak berkecimpung pada permasalahan gempa, air, dan sanitasi. Sejatinya, tempat tinggal dan air bersih adalah hak masyarakat. Pemenuhan hal itu saja, pemerintah masih abai. Kampus lewat dosen dan mahasiswa melakukan penelitian dan inovasi membantu masyarakat mendapatkan haknya, seperti yang dilakukan Ibu Asih bersama tim. 

Dalam lima tahun terakhir, kajian Ibu Asih berfokus pada cara masyarakat mendapatkan dan mengelola air bersih untuk kebutuhan sehari-hari. Pada 2022, Ibu Asih melakukan kajian pencemaran air laut di Teluk Bima dan pemukiman kumuh. Kajian tersebut menekankan prinsip desain sensitif air, pasokan air bersih, sanitasi, perlindungan terhadap banjir, dan ketahanan lingkungan. Tidak hanya di Teluk Bima, Ibu Asih juga melakukan kajian dan implementasi teknologi sanitasi di Sampit, Pontianak  (2024-2025). Keterlibatan masyarakat dalam penelitian Ibu Asih, dalam hal ini masyarakat rentan, membuktikan bahwa masyarakat membutuhkan pembangunan berkelanjutan yang berpihak pada kebutuhan hidup masyarakat. 

Di kesempatan lain, Ibu Asih juga giat melakukan penelitian dan pengabdian terkait gempa. Ia datang ke sekolah-sekolah dan mengedukasi anak-anak terkait bagunan tahan gempa. Ini penting mengingat Indonesia berada di lokasi rawan gempa. Tak hanya itu, Ibu Asih juga melibatkan penggunaan teknologi sederhana dalam riset dan pengabdiannya. Selaras dengan dengan tema SPORA 2025, Merawat Alam, Menguatkan yang Rentan, Ibu Asih akan memaparkan materi berjudul “Ketika Ilmu Tidak Netral: Pengabdian, Teknologi, dan Pilihan untuk Berpihak”.

Adapun disiplin ilmu yang dapat mengikuti SPORA 2025 adalah ilmu humaniora, dan disiplin lain dengan mitra komunitas lingkungan atau kelompok rentan. Setelah pemaparan dari dua narasumber, para pemakalah akan mempresentasikan hasil PkM-nya secara berkelompok, sesuai pembagian subtema yang telah ditentukan oleh panitia SPORA 2025.

LINK BUKU PROGRAM 

 

Published: 2025-12-27

Articles

View All Issues