Why Rice is Not Everyone’s Right: Membaca Perlawanan Pangan di Mollo

Authors

  • Wisnu Febri Wardana Universitas Gadjah Mada Author

Keywords:

Pangan Lokal, Kedaulatan Pangan, Komunitas Mollo

Abstract

Beras telah lama diposisikan sebagai simbol universal ketahanan pangan di Indonesia. Melalui kebijakan negara seperti program swasembada beras, intervensi BULOG, dan retorika politik 'pangan sama dengan beras', negara-bangsa telah membangun beras sebagai kebutuhan material dan simbolis, sehingga narasi makan nasi menjadi tanda kemodernan dan kemapanan. Ini menjadi tantangan di Mollo, NTT, yang notabene memiliki kekayaan praktik pangan lokal berbasis umbi-umbian, jagung, dan hasil hutan yang terhubung erat dengan lingkungan dan kehidupan budaya setempat. Paper ini membaca bagaimana kedaulatan pangan diartikulasikan melalui bahan pokok lokal yang tertanam kuat dalam hubungan ekologis, budaya, dan spiritual. Permasalahan yang dihadapi meliputi terbatasnya ruang kolektif untuk transmisi pengetahuan pangan antargenerasi, minimnya dokumentasi praktik pangan lokal, serta rendahnya pengakuan terhadap nilai pangan non-beras dalam hegemoni wacana pangan. Upaya dilakukan melalui pendampingan residensi berbasis komunitas, penguatan dapur dan kebun kolektif melalui foodlab Fatumfaun, serta penyelenggaraan Festival Tapun Ma Tatef sebagai ruang temu, belajar, dan perayaan pangan lokal. Kegiatan ini dirancang secara partisipatoris dengan melibatkan warga, tetua adat, dan generasi muda dalam proses berbagi pengetahuan, serta produksi dokumentasi visual dan narasi budaya pangan. Makalah ini mengkritik homogenisasi 'hak atas pangan' sebagai hak atas nasi, dan mengusulkan makanan sebagai hak yang ter-kontekstualisasi, hak untuk bernarasi atas identitas sendiri dan menggeser hegemoni berdasarkan ekologi, budaya, dan memori kolektif. Hasil kegiatan menunjukkan meningkatnya keterlibatan komunitas dalam praktik pangan lokal, terbukanya ruang dialog antar generasi, serta tumbuhnya kesadaran kolektif bahwa pangan tidak selalu identik dengan nasi, melainkan dapat bertumpu pada keragaman pangan lokal yang sesuai dengan ekologi dan budaya setempat.

Downloads

Published

2025-12-27