MENANAMKAN NILAI TOLERANSI PADA ANAK MELALUI NARRATIVE PARENTING

Authors

  • Dhita Hapsarani Universitas Indonesia Author
  • Ratna Djuwita Universitas Indonesia Author
  • Lisda Liyanti Universitas Indonesia Author
  • Ratna Djumala Universitas Indonesia Author
  • Dina N. Tuasuun Universitas Indonesia Author
  • Nor Islafatun Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta Author
  • Sayidatul Ummah Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta Author

Keywords:

Narrative Parenting, Pesantren Nanggerang, Pola Pengasuhan Anak, Toleransi

Abstract

Sebagai kelanjutan dari program Literasi Toleransi dalam Keberagaman yang dilaksanakan tahun 2023, program ini bertujuan untuk membangun kesadaran para ibu di Pesantren Nanggerang, Kabupaten Bogor, tentang pentingnya menanamkan nilai tolerasi pada anak sejak dini. Selain itu, program ini juga menyediakan pelatihan pengasuhan anak berbasis cerita atau narrative parenting untuk membantu para ibu mengaplikasikan nilai-nilai tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Sesuai namanya, pendekatan ini mengandalkan penggunaan cerita keluarga yang disampaikan orang tua kepada anak-anak mereka. Menurut Fivush, R., Bohanek, J., Robertson, R., & Duke, M. (2004), cerita tentang masa lalu yang dibangun dalam keluarga dapat membantu anak memahami dirinya, baik sebagai individu maupun sebagai bagian dari keluarganya. Cerita bisa dipakai sebagai alat untuk mengajarkan nilai-nilai kehidupan, pelajaran tentang kehidupan, dan bagaimana seseorang menghadapi berbagai tantangan, termasuk berinteraksi dalam masyarakat yang beragam. Pelatihan 12 jam ini dilaksanakan setiap dua minggu sekali selama tiga bulan. Modul pelatihan mencakup materi pengenalan jenis-jenis pola asuh, penerapan peraturan dalam keluarga, penanaman nilai-nilai dalam keluarga, penjelasan tentang narrative parenting, juga praktik bercerita tentang toleransi. Salah satu tantangan yang ditemukan dalam pelatihan ini adalah bahwa kedua puluh ibu yang menjadi peserta pelatihan ini tidak pernah mendengar dongeng atau cerita sebelumnya. Mereka juga tidak terbiasa membaca buku cerita. Upaya yang dilakukan untuk menyiasati keadaan ini adalah mengajak para ibu menggali pengalaman mereka saat bertemu dengan orang yang berbeda agama, suku, dan ras, kemudian membagikan cerita tersebut kepada peserta lain.

Downloads

Published

2024-12-14